As Sonhaji

Cerita Lucu Abu Nawas 78, Mengajari Keledai Membaca

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-78 Ini Berjudul "Mengajari Keledai Membaca", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Mengajari Keledai Membaca


Ada aja orang yg iri akan kecerdikan Abu Nawas ini, termasuk para pembesar kerajaan yg ingin menjadi menteri kesaygan Raja.

Pada suatu hari seorang menteri kerajaan yg dipimpin oleh Harun al Rasyid tiba-tiba punya pikiran buruk kepada Abu Nawas.
Rupanya dia iri hati terhadap perhatian Raja yg begitu berlebihan terhadap Abu Nawas daripada dirinya.

Tanpa ada sebab, menteri itu memberikan seekor keledai kepada Abu Nawas.
"Ajari keledai itu membaca. Dalam 2 minguu, datanglah kembali kemari dan kita lihat hasilnya," kata menteri itu.

Abu Nawas menerimanya dan kemudian pergi tanpa banyak kata.
Namun dlam hati dia masih was-was juga atas niat menteri itu.
"Apakah ini salah satu tipu dayanya tuk menghancurkan nama baikku?" tanya Abu Nawas dlam hati.

Abu Nawas berusaha cuek aja dan dalam 2 minggu kemudian dia kembali ke istana.
Tanpa banyak bicara, menteri mengajaknya menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid.

"Baginda, akan aku tunjukkan siapa sebenarnya diriku ini," kata menteri itu dengn lantang.
"Hai menteri, ada apa dengn dirimu?" bentak Raja Harun.
"Tenang Baginda, hari ini Baginda akan tahu kecerdasan akal saya sebenarnya mengungguli kecerdasan Abu Nawas," ucap menteri.

"Apalagi yg akan dibuat oleh menteri ini," kata Abu Nawas dlam hati.
"Baiklah, jika salah satu dari kalian menang, maka dia berhak mendapatkan sekantung dinar ini, tetapi bagi yg kalah dia akan dihukum 3 bulan di penjara," titah Sang Raja.

Tanpa dapat mengelak, Abu Nawas terpaksa menyggupi permainan aneh itu.
Tiba-tiba menteri itu menunjuk ke sebuah buku besar.
"Coba buktikan jika keledai itu bisa membaca, bukankah engkau cerds dlam segala hal?" kata menteri kepada Abu Nawas.

Abu Nawas lalu menggiring keledainya ke buku itu dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu dan tak lama kemudian mulai membalik halamannya dengn lidahnya.
Terus menerus dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman terakhir.
Setlah selesai si keledai menatap Abu Nawas.

"Demikianlah, keledaiku bisa membaca," kata Abu Nawas.
Kini giliran si menteri itu menginterogasi.
"Bagaimana caramu mengajari dia membaca?" tanyanya.

"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku dan aku sisipkan biji-biji gandum di dlamnya.
Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman tuk bisa memakan biji-biji gandum itu, sampai dia terlatih betul tuk membalik-balik halaman buku dengn benar." jelas Abu Nawas.

"Tapi bukankah dia tak mengerti apa yg dibacanya?" tukas si menteri.
"Memang demikianlah cara keledai membaca, dia hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya.
Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai bukan?" jawab Abu Nawas.

Jawab Abu Nawas ini mendapatkan anggukan dari Baginda Raja.
Raja mengerti, sepintar-pintarnya hewan, tak akan sanggup menjadi sesempurna manusia.
Hanya manusia bodoh aja yg tak mau menggunakan akalnya tuk berfikir.
Akhirnya Abu Nawas mendapatkan hadiah sekantung dinar, sedangkan menteri masuk penjara.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 77, Mengaku Hamil

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-77 Ini Berjudul "Mengaku Hamil", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Mengaku Hamil


Sultan Harun Al-Rasyid dikabarkan sedang stress di istana.
Konon penyebabnya sudah 7 bulan Abu Nawas tak menghadap kepada dirinya, akibatnya suasana istana jadi sepi tanpa kehadiran Abu Nawas.
Dia menyesal karena melarang Abu Nawas berkunjung ke istana sehingga membuat Abu Nawas benar-benar tak muncul di hadapan Raja.

Raja pun akhirnya mencabut sumpahnya dan menyuruh pengawal menemui Abu Nawas tuk mengajaknya ke istana.
"Mungkin ABu Nawas marah kepadaku, pergilah ke rumahnya dan ajaklah Abu Nawas menemuiku," perintahnya.

Pengawal Raja pun berkunjung ke rumah Abu Nawas dan di luar dugaan, Abu Nawas menolak tawaran pengawal Raja itu.
Abu Nawas mengaku tengah hamil dan hendak melahirkan.

"Tolong sampaikan kepada Raja, aku sakit dan hendak bersalin dan aku sedang menunggu dukun beranak tuk mengeluarkan bayiku ini," kata Abu Nawas sambil mengelus perutnya yg buncit.

Maka kembalilah pengawal Raja itu dan menyampaikan kabar sebenarnya.
"Ajaib benar," kata Baginda Raja dlam hati setlah mendengar laporan pengawalnya.
"Baru kali ini aku mendengar kabar seorang lelaki bisa hamil," katanya heran.

Maka Raja pun akhirnya berkeinginan menengok Abu Nawas.
Dia pergi dengn di iringi sejumlah menteri dan para punggawa ke rumah Abu Nawas.
Begitu melihat Raja datang, Abu Nawas pun berlari-lari menyambut dan menyembah kakinya.

"Ya tuanku, berkenan juga rupanya tuanku datang ke rumah hamba yg hina ini," ucap Abu Nawas.
Raja pun kemudian di persilahkan duduk di tempat yg paling terhormat.
Sementara Abu Nawas duduk bersila di bawahnya.

"Ya Tuanku, apakah yg menyebabkan Tuanku datang ke rumahku ini?" tanya Abu Nawas.
"Aku kemari karena ingin tahu keadaanmu, engkau dikabarkan sakit hendak melahirkan dan sedang menunggu dukun beranak, benarkah demikian?" jawab Raja.

Abu Nawas tak menjawab, dia hanya tersenyum.
"Coba jelaskan perkataanmu. Siapa lelaki yg hamil dan siapa dukun beranaknya," tanya Raja lagi.
Maka dengn senang hati berceritalah Abu Nawas.

"Konon....Baginda mengusirku dari istana, tetapi setlah 7 bulan berlalu tanpa alasan yg jelas, sang Raja memanggil hamba ke istana, ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yg kemudian hamil tanpa menikah.
Tentu sja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri," cerita Abu Nawas.

Abu Nawas menjelaskan bahwa sebagai seorang pemimpin, seharusnya Raja tak mengeluarkan titah yg plin-plan, tak boleh mencabut perintahnya lagi.
Jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludah sendiri dan itulah tanda-tanda pengecut.

"Oleh karena itu harus berfikir masak-masak sebelum bertinda, itulah tamsil seorang lelaki yg hendak bersalin," cerita Abu Nawas menyindir Baginda Raja.
"Lalu bagaimana dengn dukun beranak itu?" tanya Baginda.

"Adapun dukun beranak yg ditunggu, adalah Baginda kemari, dengn kedatangan Baginda kemari, berarti hamba sudah melahirkan, artinya hilangnya rasa sakit ato takut hamba kepada Baginda," cetus Abu Nawas.

"Bukan begitu Abu Nawas, aku tak sungguh-sungguh melarangmu ke istana, melainkan hanya bergurau.
Besok datanglah engkau ke istana, aku ingin bicara dengnmu," titah Raja.
"Segala titah Baginda, hamba junjung tinggi tuanku," sembah Abu Nawas dengn takzim.
Tapi Raja hanya menggeleng-gelengkan kepala aja.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 76, Monyet Ajaib

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-76 Ini Berjudul "Monyet Ajaib", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Monyet Ajaib


Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan masa. Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yg kebetulan berjumpa di tengah jalan.
"Ada kerumunan apa di sana?" tanya Abu Nawas.

"Pertunjukkan keliling yg melibatkan monyet ajaib."

"Apa maksudmu dengn monyet ajaib?" kata Abu Nawas ingin tahu.

"Monyet yg dapat mengerti bahasa manusia, dan yg lebih menakjubkan adalah monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja." kata kawan Abu Nawas menambahkan.
Abu Nawas makin tertarik. Dia tak tahan tuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban binatang raksasa itu.

Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karna begitu banyak penonton yg menyaksikan pertunjukkan itu, sang pemilik monyet dengn bangga menawarkan hadiah yg cukup besar bagi siapa saja yg sanggup membuat monyet itu mengangguk-angguk.

Tak heran bila banyak diantara para penonton mencoba maju satu persatu. Mereka berupaya dengn beragam cara tuk membuat monyet itu mengangguk-angguk, tapi sia-sia. Monyet itu tetap menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat kegigihan monyet itu Abu Nawas semakin penasaran. Hingga dia maju tuk mencoba. Setlah berhadapan dengn binatang itu Abu Nawas bertanya,
"Tahukah engkau siapa aku?" Monyet itu menggeleng.

"Apakah engkau tak takut kepadaku?" tanya Abu Nawas lagi. Namun monyet itu tetap menggeleng.
"Apakah engkau takut kepada tuanmu?" tanya Abu Nawas memancing. Monyet itu mulai ragu.
"Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu." lanjut Abu Nawas mulai mengancam. Akhirnya monyet itu terpaksa mengangguk-angguk.
Atas keberhasilan Abu Nawas membuat monyet itu mengangguk-angguk maka dia mendapat hadiah berupa uang yg banyak. Bukan main marah pemilik monyet itu hingga dia memukuli binatang yg malang itu. Pemilik monyet itu malu bukan kepalang. Hari berikutnya dia ingin menebus kekalahannya. Kali ini dia melatih monyetnya mengangguk-angguk.
Bahkan dia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai dapat dipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh Abu Nawas. Tak peduli apapun pertanyaan yg diajukan.

Saat-saat yg dinantikan tiba. Kini para penonton yg ingin mencoba, harus sanggup membuat monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Maka seperti hari sebelumnya, banyak para penonton tak sanggup memaksa monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Setlah tak ada lagi yg ingin mencobanya, Abu Nawas maju. Dia mengulang pertanyaan yg sama.

"Tahukah engkau siapa daku?" Monyet itu mengangguk.

"Apakah engkau tak takut kepadaku?" Monyet itu tetap mengangguk.

"Apakah engkau tak takut kepada tuanmu?" pancing Abu Nawas. Monyet itu tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.
Akhirnya Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas.

"Tahukah engkau apa guna balsam ini?" Monyet itu tetap mengangguk .

"Baiklah, bolehkah kugosok selangkangmu dengn balsam?" Monyet itu mengangguk.
Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu. Tentu aja monyet itu merasa agak kepanasan dan mulai panik.
Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yg cukup besar. Bungkusan itu juga berisi balsam.
"Maukah engkau bila balsam ini kuhabiskan tuk menggosok selangkangmu?" Abu Nawas mulai mengancam. Monyet itu mulai ketakutan. Dan rupanya dia lupa ancaman tuannya sehingga dia terpaksa menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.

Abu Nawas dengn kecerdikan dan akalnya yg licin mampu memenangkan sayembara meruntuhkan kegigihan monyet yg dianggap cerdik.

Ah, jangankan seekor monyet, manusia paling pandai aja dapat dikecoh Abu Nawas!

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 75, Menghindari Hujan

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-75 Ini Berjudul "Menghindari Hujan", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Menghindari Hujan


Sejak peristiwa penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yg dilegalisir oleh Baginda, sejak saat itu pula Baginda ingin menangkap Abu Nawas tuk dijebloskan ke penjara.
Sudah menjadi hukum bagi siapa aja yg tak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi dia akan mendapat hukuman. Baginda tahu Abu Nawas amat takut kepada beruang. Suatu hari Baginda memerintahkan prajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetar tapi dia tak berani menolak perintah Baginda.

Dlam perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yg cerah berubah menjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengn penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
"Tahukah mengapa engkau aku panggil?" tanya Baginda tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
"Ampun Tuanku, hamba belum tahu." kata Abu Nawas.

"Kau pasti tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh dari sini. Kau kuberi kuda yg lamban. Sedangkan aku dan pengawal-pengawalku akan menunggang kuda yg cepat. Nanti pada waktu santap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengn cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering. Sekarang kita berpencar." Baginda menjelaskan.
Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahu Baginda akan menjebaknya. Dia harus mancari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir, tiba-tiba hujan turun.
Begitu hujan turun Baginda dan rombongan segera memacu kuda tuk mencapai tempat perlindungan yg terdekat. Tapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup. Ketika santap siang tiba Baginda segera menuju tempat peristirahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengn menunggang kuda yg lamban. Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tak basah. Padahal dengn kuda yg paling cepat pun tak dapat mencapai tempat berlindung yg paling dekat.

Pada hari kedua Abu Nawas diberi kuda yg cepat yg kemarin ditunggangi Baginda Raja. Kini Baginda dan para pengawal-pengawalnya mengendarai kuda-kuda yg lamban. Setlah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Malah hujan hari ini lebih deras daripada kemarin. Baginda dan pengawalnya langsung basah kuyup karena kuda yg ditunggangi tak dapat berlari dengn kencang.

Ketika saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dahulu dari Baginda dan pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja. Selang beberapa saat Baginda dan para pengawalnya tiba dengn pakaian yg basah kuyup. Melihat Abu Nawas dengn pakaian yg tetap kering Baginda jadi penasaran. Beliau tak sanggup lagi menahan keingintahuan yg selama ini disembunyikan.
"Terus terang begaimana caranya menghindari hujan, wahai Abu Nawas." tanya Baginda.
"Mudah Tuanku yg mulia." kata Abu Nawas sambil tersenyum.

"Sedangkan aku dengn kuda yg cepat tak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengn kuda yg lamban ini." kata Baginda.
"Hamba sebenarnya tak melarikan diri dari hujan. Tetapi begitu hujan turun hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya, lalu mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti." Diam-diam Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 74, Petugas Perbatasan

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-74 Ini Berjudul "Petugas Perbatasan", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Petugas Perbatasan


Setiap orang di negeri Irak mulai dari anak-anak hingga dewasa mengenal si Abu Nawas.
Seperti kali ini, seisi desa merasa keheranan karena Abu Nawas tampak setiap minggunya melakukan perjalanan dari desanya ke desa tetangga yg sudah masuk dlam wilayah kerajaan negara lain.

Kali ini, seperti biasanya awal minggu pada suatu bulan, dini hari si Abu Nawas sudah keluar dari rumahnya yg dapat dikatakan sangat sederhana.
Di samping rumah sederhana tersebut terdapat kandang kuda yg penghuninya kerap kali berganti.

Seperti dini hari itu, Abu Nawas bersiap melakukan perjalanan menuju desa tetangganya sembari menunggang kuda.
Keesokan harinya biasanya dia akan pulang ke desanya di negeri Irak tersebut sambil membawa banyak barang.

Karuan aja kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan bagi Pak Hamid, tetangganya.
Sehingga sore itu ketika Abu Nawas pulang dari perjalanan tak urung ditanyakanlah perihal perniagaannya yg membuat warga sekampung bingung.

"Hai Abu Nawas, ke manakah engkau beberapa waktu ini, kalau memang engkau memiliki perniagaan yg baik, tolonglah kau ajak kami," ungkap Pak Hamid.
"Ada aja Pak, dan kukira tak akan ada yg mau berniaga sepertiku," jawab Abu Nawas.

Bulan berganti bulan, akhirnya Abu Nawas diduga tlah melakukan bisnis yg dilarang.
Bulan berikutnya kembali Abu Nawas berniat melakukan perniagaannya dan dia harus melalui pintu perbatasan.
Si Fulan, petugas penjaga pintu perbatasan memeriksa seluruh barang bawaannya.
Namun tak ada satupun barang yg mencurigakan.
Hanya ada bekal dan beberapa keping uang.

Keesokan harinya kembali si FUlan berjumpa Abu Nawas di perbatasan, kali ini Abu Nawas membawa banyak barang yg semua lengkap dengn dokumen yg diperlukan.
Si Fulan tak dapat membuktikan perihal dugaan bisnis terlarang Abu Nawas.
Bahkan karena seringnya perjumpaan tersebut, hubungan keduanya menjadi akrab sampai akhirnya si Fulan dipindahkan dari tempat kerjanya.

Suatu waktu bertemulah 2 orang yg tlah lama tak jumpa di suatu kesempatan yg tak terduga.
Si Fulan bukan lagi seorang penjaga pintu perbatasan dan dirinya sudah lama pensiun dari pekerjaan itu.

Abu Nawas pun sekarang sudah dikenal sebagai saudagar dermawan yg berhasil.
Pertemuan itu dilanjutkan dengn jamuan makan oleh Abu Nawas.
Dlam kesempatan tersebut masing-masing bercerita tentang pengalaman yg tlah mereka hadapi selama lebih kurang 20 tahun tak bertemu.

"Usaha apa yg engkau lakukan di masa itu saudaraku, karena aku mengetahui kau tak membawa cukup uang.
Tetapi ketika pulang tak hanya keperluan makan, tetapi juga barang lainnya kau bawa setlah pulang dari perniagaan yg tak sampai sehari semalam kau lakukan," tanya si Fulan.

Karena mendengar hal itu, tertawalah Abu Nawas mengingat kebiasaan masa mudanya.
"Sebenarnya sangat mudah saudaraku tuk mencari bukti dan tak perlu harus memeriksa semua barang bawaanku.
Seperti engkau ketahui bahwa aku senantiasa pergi dengn mengendarai kuda, tetapi ketika pulang aku hanya berjalan kaki dan di situlah usahaku," jawab Abu Nawas.

Mendengar penjelasan itu mengertilah si Fulan, yakni di masa itu Abu Nawas menjual kuda-kudanya di negeri tetangga dan pulangnya dia tukarkan dengn barang lainnya.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 73, Menilai Syair

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-73 Ini Berjudul "Menilai Syair", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Menilai Syair


Baginda Raja Harun Al Rasyid mempunyai dua orang putra dari permaisurinya.
Putra pertama bernama Al Amin dan putra kedua bernama Al Makmun.
Al Amin ternyata sangat bodoh dan pemalas, sedangkan Al Makmun terkenal rajin dan pintar dlam ilmu dan sastra.

Raja sangat menyukai Al Makmun karena kecerdasannya tersebut, dan tentu aja ini membuat sang permaisuri tak suka lantaran sang raja dianggap pilih kasih.
Padahal kduanya kan sama putranya.
"Suamiku, kenapa Anda tak begitu menyaygi Al Amin," tanya permaisuri Zubaidah.
"Karena dia tak bisa membuat syair dan tak kenal sastra," jawab baginda raja.
"Suamiku, sebenarnya kalau mau, Al Amin akan menguasai ilmu sastra daripada saudaranya.
Sebenarnya dia lebih cerdas, dia hanya malas aja," kata permaisuri.
"Kalau begitu biar besok aku panggil Abu Nawas tuk menguji syairnya," tambahnya.

Pagi buta Abu Nawas sudah muncul di istana memenuhi panggilan sang permaisuri.
"Abu Nawas, coba kamu dengarkan karya syair putaku ini," kata sang permaisuri dengn bangga.

Al Amin lalu membacakan beberapa bait syair sebagai berikut,
"Kami adalah keturunan Bani Abbas, kami duduk di atas kursi."

Abu Nawas hampir tak kuat menahan tawanya mendengar syair tersebut.
"Bagaimana," tanya Al Amin kepada Abu Nawas.
"Syair macam apa itu," jawab Abu Nawas.

Al Amin marah sekali mendengar cemooh Abu Nawas tersebut.
Dia lalu menyuruh seorang pasukan istana tuk menangkap dan memasukkan Abu Nawas ke dlam penjara.
Selama beberapa hari Abu Nawas tak pernah muncul di istana, sehingga Raja Harun Al Rasyid merasa rindu.
Belakangan, raja mendengar kabar bahwa Abu Nawas dimasukkan penjara oleh Al Amin.
Dia kemudian mengajak putranya itu ke penjara tuk menjenguk Abu Nawas.

"Kenapa kamu memenjarakannya," tanya Baginda kepada Al Amin sambil menceritakan apa yg terjadi.
"yg sangat menyakitkan dia tlah berani mencemooh syair karyaku, ayahanda," kata Al Amin.
"Tentu aja karena memang karya syairmu jelek.
Dia itu kan memang seorang penyair hebat, jadi bisa menilai mana karya syair yg bagus dan yg tak bagus," kata sang Raja menasehati.
"Baik, kalau begitu beri lagi aku kesempatan tuk memperbaiki karya syairku," kata Al Amin sambil beranjak pergi.

Tuk kedua kalinya, Al Amin pergi tuk mengasah syairnya.
Esoknya, pagi-pagi sekali baginda raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas dan beberapa penyair sudah berada di istana.
Rupanya pertemuan itu sudah diatur oleh permaisuri Zubaidah.

Dia ingin mereka mendengarkan karya syair putranya yg baru saja pulang mendalami ilmu sastra.
Al Amin pun mulai membaca karya syairnya,
"Hai binatang yg duduk bersimpuh, rasanya tak ada yg setolol kamu, kamu seperti hidangan yg diolesi minyak sapi kental, seperti warna seekor kuda belang."

Begitu selesai mendengar syair tersebut, Abu Nawas langsung bangkit dan hendak berlalu dari tempatnya.
"Kemana kamu, Abu Nawas?" tanya raja Harun Al Rasyid.
"Aku lebih suka balik ke penjara aja daripada mendengar syair macam ini.
Toh sebentar lagi putramu ini pasti akan menyuruh polisi tuk membawaku ke sana," jawab Abu Nawas.

Raja pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Abu Nawas itu.
Sementara sang permaisuri Zubaidah hanya bisa duduk bengong.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 72, Menipu Abu Nawas

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-72 Ini Berjudul "Menipu Abu Nawas", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Menipu Abu Nawas


Krisis ekonomi yg sedang melanda negeri yg dipimpin oleh Raja Harun Ar-Rasyid, membuat seorang Abu Nawas mengalami kesulitan uang. Dia memutuskan tuk menjual keledai kesaygannya, padahal kendaraan itu miliknya satu-satunya.

Tak peduli siapapun orangnya, semua pun bisa terkena imbas dari krisis ekonomi, tak terkecuali Abu Nawas. Bahkan, demi menjaga asap dapur agar tetap bisa mengepul, dirinya harus rela menjual keledai kesaygannya walaupun sebenarnya dia tak tega tuk menjualnya.

Keesokan harinya, Abu Nawas membawa keledainya ke pasar. Namun, dari kejauhan Abu Nawas rupanya sedang diintai oleh sekelompok pencuri yg terdiri dari empat orang.

Mereka pun berencana tuk memperdaya Abu Nawas dengn beberapa strategi yg tlah disusun. Ketika Abu Nawas sedang beristirahat di bawah pohon, salah seorang pencuri mendekatinya dan mengatakan kalau ingin membeli kambing yg akan dijualnya. Abu Nawas pun terkejut mendengar perkataan pencuri tersebut. Tapi, dirinya terus melanjutkan perjalanannya karena yakin bahwa yg dibawanya adalah seekor keledai, bukan seekor kambing.

Di tengah-tengah perjalanan, Abu Nawas pun kembali dihentikan oleh pencuri kedua dan ketiga. Keduanya pun tak berhasil meyakinkan Abu Nawas. Abu Nawas percaya diri bahwa yg hendak dijualnya adalah seekor keladai, bukan seekor kambing.

Walaupun mulai tampak ragu karena ada tiga orang yg menyebut keledainya dengn seekor kambing, Abu Nawas tetap melanjtukan perjalanan pergi ke pasar.
Sebelum sampai di pasar, Abu Nawas langsung didatangi oleh pencuri keempat. Dengn percaya diri, pencuri tersebut meyakinkan Abu Nawas tuk menjual kambing yg dibawanya.
"Ahaa...bagus sekali kambingmu," kata pencuri ke empat percaya diri.
"Kau juga yakin kalau ini adalah kambing," tanya Abu Nawas.

Setlah bernegoisasi, Abu Nawas pun akhirnya menjual keledai yg dibawanya kepada pencuri ke empat sebesar tiga dirham. Dengn perasaan bingung, Abu Nawas langsung pulang ke rumah karena mengetahui bahwa keledainya hanya dihargai tiga dirham aja.

Benar aja, sesampainya di rumah, Abu Nawas langsung dimarahi oleh istrinya karena tlah menjual seekor keledai dengn harga yg murah, hanya tiga dirham aja. Abu Nawas pun menyadari kalau sudah diperdayai oleh komplotan pencuri yg menggoyahkan akal sehatnya.

Akhirnya, terpikir oleh Abu Nawas tuk balik mengerjai komplotan pencuri tersebut. Abu Nawas pergi ke hutan mencari kayu tuk dijadikan sebuah tongkat yg nantinya bisa menghasilkan uang. Rencana Abu Nawas ternyata berjalan dengn lancar.

Tak lama kemudian, banyak orang mulai membicarakan keajaiban tongkat Abu Nawas. Dan berita itu akhirnya terdengar juga oleh komplotan pencuri yg tlah menipu Abu Nawas dulu. Bahkan, mereka langsung tertarik karena melihat sendiri kesaktian tongkat tersebut. Cukup dengn mengacungkan tongkatnya aja, Abu Nawas terlihat makan di kedai tanpa membayar uang sepeserpun.

Para pencuri pun berfikir kalau tongkat itu bisa dibeli, maka tentu aja mereka akan cepat kaya. Setlah bernegoisasi yg cukup alot, akhirnya Abu Nawas menjual tongkatnya sebesar seratus dinar uang emas.

Setlah transaksi selesai, Abu Nawas pun segera melesat pulang sambil membawa uang dari hasil penjualan tongkat tersebut. Para pencuri itu segera mencari warung terdekat tuk membuktikan keajaiban tongkat itu. Seusai makan, mereka mengacungkan tongkat itu kepada pemilik kedai, yg tentu saja membuat pemilik kedai marah besar.

Keempat pencuri itu tak terima, karena sebelumnya, Abu Nawas juga melakukan hal yg sama dengn mengacungkan tongkat aja.
Pemilik kedai pun menjelaskan bahwa sebelum makan di kedai miliknya, Abu Nawas tlah menitipkan sejumlah uang kepadanya.
Kali ini Abu Nawas berhasil seratus persen mengelabui keempat pencuri itu.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 71, Nasehat Tuk Raja

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-71 Ini Berjudul "Nasehat Tuk Raja", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Nasehat Tuk Raja


Suatu ketika Raja Harun Ar-Rasyid menunaikan ibadah haji.
Ketika sampai di pusat kota Kuffah, tiba-tiba terlihat olehnya Abu Nawas sedang menaiki sebatang kayu berlarian ke sana kemari dan diikuti anak-anak dengn riangnya.
Wajah sang Raja mendadak menjadi sumringah dibuatnya. Matanya berbinar-binar karena begitu merindukan sosok Abu Nawas. Memang Abu Nawas sejak beberapa bulan terakhir meninggalkan kerajaannya sebagai bentuk protes atas ketakadilan dan kesombongannya.

Sejak kepergian Abu Nawas itulah raja seperti mengalami kesepian. Tak ada lagi orang yg diajaknya berdiskusi maupun hanya sekedar bercanda. Karena itu Raja sangat gembira begitu melihat sosok Abu Nawas.

Karena sangat penasaran, Raja Harun Ar-Rasyid kemudian bertanya kepada para pengawalnya.
"Siapa dia?" tanya Raja.
"Dia si Abu Nawas yg gila itu," jawab salah seorang pengawalnya.
"Coba panggil dia kemari, tanpa ada yg tahu, dan sekali lagi aku peringatkan kamu jangan berkata yg buruk lagi tentang dia, perintah Raja Harun."
"Baiklah wahai Rajaku," jawab pengawal.

Tak berapa lama kemudian para pengawal berhasil membawa Abu Nawas ke hadapan Raja. Abu Nawas diperkenankan duduk di hadapan Raja.
"Salam bagimu wahai Abu Nawas," sapa Raja Harun Ar-Rasyid.
"Salam kembali wahai Amirul Mukminin," jawab Abu Nawas.
"Kami merindukanmu wahai Abu Nawas," kata Raja Harun Ar Rasyid.
"Ya, tetapi aku tak merindukan Anda semuanya," jawab Abu Nawas dengn ketus.

Beberapa pengawal kerajaan spontan aja akan mencabut pedang dari sarungnya tuk memberikan pelajaran kepada Abu Nawas yg tak mampu menjaga perkataannya di hadapan raja, sang pemimpin. Akan tetapi niat tersebut dicegah sendiri oleh Raja Harun Ar-Rasyid.
"Wahai Abu Nawas, aku merindukan kecerdasanmu, maka berilah aku nasihat," pinta Raja.
"Dengn apa aku menasehatimu, inilah istana dan kuburan mereka," kata Abu Nawas.
"Tambahkan lagi, engkau tlah memberikan nasihat yg bagus," ujar raja mulai bersemangat.
"Wahai Amirul Mukminin, barang siapa yg dikarunia Allah SWT dengn harta dan ketampanan, lalu dia bisa menjaga kehormatannya dan ketampanannya, serta memberikan bantuan dengn hartanya, maka dia akan ditulis dlam daftar orang-orang yg shaleh," kata Abu Nawas.

Raja Harun Ar-Rasyid begitu senang mendapatkan nasihat itu. Dia kemudian mengira Abu Nawas menginginkan sesuatu darinya.
"Aku tlah menyuruh para pengawalku tuk membayar hutangmu," kata Raja.
"Tidak Amirul Mukminin, kembalikan harta itu kepada yg berhak menerimanya. Bayarlah hutang diri Anda sendiri," kata Abu Nawas.

Namun Raja Harun tak menyerah begitu aja. Dia kemudian mempersiapkan hadiah khusus pada Abu Nawas.
"Aku tlah mempersiapkan sebuah hadiah tukmu,"katanya.
"Wahai Amirul Mukminin, apakah Paduka berfikir bahwa Allah hanya memberikan karunia kepada Anda dan melupakanku," jawab Abu Nawas yg segera pergi dari hadapan raja.

Perlakuan itu membuat sang Raja merenung sambil mengevaluasi dirinya sendiri.
Raja Harun sadar kalau selama ini dirinya kurang adil dan berlaku sombong dengn jabatannya sehingga mudah meremehkan orang lain. Usai mendapat nasihat dari Abu Nawas, Raja Harun berubah menjadi raja yg adil dan bijaksana kepada rakyatnya.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 70, Nyanyian Kuburan

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-70 Ini Berjudul "Nyanyian Kuburan", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Nyanyian Kuburan


Pada suatu ketika ada seseorang yg sedang berjalan-jalan, dan setlah sampai di jalan sekitar makam, dirinya melihat Abu Nawas sedang berada di sebuah kuburan. Orang itu kemudian mendekatinya. Di sana ternyata Abu Nawas sedang menggantungkan kakinya di sebuah nisan kuburan.

"Wahai Abu Nawas, apa yg engkau lakukan di sini?" tanya orang itu.
"Aku sedang bercengkerama dengn suatu kaum yg tak pernah menyakitiku, dan apabila aku tlah tiada, mereka tak menggunjingiku," jawab Abu Nawas.

"Harga-harga sandang pangan papan mulai naik, tidakkah engkau mau ikut berdoa kepada Allah SWT, agar harga-harga bisa terkendali?" kata orang itu.
"Demi Allah, aku tak mau peduli meskipun dibayar satu dinar sekalipun. Sesungguhnya Allah tlah meminta kita tuk menyembah-Nya sebagaimana perintah-Nya dan Allah memberikan rezeki kepada kita sebagaimana yg tlah dijanjikan."

Abu Nawas kemudian bertepuk tangan dan bernyanyi,
"Wahai penikmat dunia dan perhiasaannya.
Kedua matanya tak pernah tidur dari kelezatannya.
Kau hanya sibuk dengn apa yg tak teraih."

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 69, Pangeran Sakit

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-69 Ini Berjudul "Pangeran Sakit", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Pangeran Sakit


Secara tak terduga Pangeran yg menjadi putra mahkota jatuh sakit. Sudah banyak tabib yg didatangkan tuk memeriksa dan mengobati tapi tak seorang pun mampu menyembuhkannya.

Akhirnya Raja mengadakan sayembara. Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tak terkecuali oleh para penduduk negeri tetangga. Sayembara yg menyediakan hadiah menggiurkan itu dlam waktu beberapa hari berhasil menyerap ratusan peserta.

Namun tak satu pun dari mereka berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekat Abu Nawas, menawarkan jasa baik tuk menolong sang putra mahkota. Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengn penuh harap. Abu Nawas sadar bahwa dirinya bukan tabib. Maka dari itu dia tak membawa peralatan apa-apa. Para tabib yg ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yg datang tanpa peralatan yg mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macam Abu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabib terkenal dengn peralatan yg lengkap aja tak sanggup. Bahkan penyakitnya tak terlacak.

Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertuju padanya. Namun Abu Nawas tak begitu memperdulikannya. Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yg sedang terbaring. Dia menghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya. Setlah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, Abu Nawas berkata,

"Saya membutuhkan seorang tua yg di masa mudanya sering mengembara ke pelosok negeri." Orang tua yg diinginkan Abu Nawas didatangkan.
"Sebutkan satu persatu nama-nama desa di daerah selatan." perintah Abu Nawas kepada orang tua itu. Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Kemudian Abu Nawas memerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setlah semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungi sebuah desa di sebelah utara. Raja merasa heran.

"Engkau kuundang ke sini bukan tuk bertamasya."
"Hamba tak bermaksud berlibur yg Mulia." kata Abu Nawas.
"Tetapi aku belum paham." kata Raja.
"Maafkan hamba, Paduka yg Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hamba jelaskan sekarang." kata Abu Nawas.
Abu Nawas pergi selama dua hari. Sekembali dari desa itu Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu Abu Nawas menghadap Raja.

"Apakah yg Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup?" tanya Abu Nawas.
"Apa maksudmu?" Raja balas bertanya.
"Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utara negeri ini." kata Abu Nawas menjelaskan.
"Bagaimana kau tahu?"
"Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degup jantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagian utara negeri ini. Dan sang pangeran tak berani mengutarakannya kepada Baginda."
"Lalu apa yg harus aku lakukan?" tanya Raja.
"Mengawinkan pangeran dengn gadis desa itu."
"Kalau tidak?" tawar Raja ragu-ragu.
"Cinta itu buta. Bila kita tak berusaha mengobati kebutaannya, maka dia akan mati." Rupanya saran Abu Nawas tak bisa ditolak. Sang pangeran adalah putra satu-satunya yg merupakan pewaris tunggal kerajaan. Abu Nawas benar. Begitu mendengar persetujuan sang Raja, sang pangeran berangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih Raja memberi Abu Nawas sebuah cincin permata yg amat indah.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 68, Memanah Rezeki

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-68 Ini Berjudul "Memanah Rezeki", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Memanah Rezeki


Abu Nawas memang cerdik, msekipun tak mempunyai kemampuan tuk melaksanakan titah sang raja, namun dia slalu berhasil melaksanakan tugasnya. Dan hadiah slalu menanti, sungguh rezeki yg tak disangka.

Suatu ketika Abu Nawas diundang oleh Raja Harun Ar-Rasyid tuk makan bersama. Maka berangkatlah para pengawal kerajaan tuk menjemput Abu Nawas di rumahnya. Tak berapa lama kemudian Abu Nawas tlah sampai di istana dengn pakaian sederhana aja.
Abu Nawas langsung diajak berbincang di sebuah pendopo dengn berbagai jamuan makanan lengkap dengn minuman yg segar.

Melihat begitu banyaknya makanan, Abu Nawas pun sangat lahap menyantap makanan yg dihidangkan kepadanya. Sementara itu, raja masih meneruskan perbincangannya dengn Abu Nawas tentang kekuasaannya.

Raja Harun bercerita kepada Abu Nawas terkait dengn luasnya wilayah yg tlah dipimpinnya. Namun Abu Nawas nampak tak menggubris malah dia sibuk dengn makanan yg tersaji di hadapannya.
Tak Lama kemudian, raja mulai melontarkan berbagai pertanyaan kepada Abu Nawas.

"Hai Abu Nawas, kalau setiap benda ada harganya, berapakah harga diriku ini?" tanya raja.
Abu Nawas yg masih dlam kondisi kekenyangan setlah makan makan, menjawab sekenanya tanpa berpikir panjang.
"Hamba kira, mungkin sekitar 100 dinar aja Paduka," jawab Abu Nawas.
"Terlalu sedikit sekali engkau Abu Nawas, harga sabukku aja 100 dinar," bentak raja.

"Tepat sekali Paduka, memang yg saya nilai dari diri Paduka hanya sebatas sabuk itu aja," ujar Abu Nawas.
Karena merasa tak ingin dipermalukan oleh Abu Nawas karena kecerdikannya, kali ini raja tak mau lagi mengambil resiko dengn beradu pendapat lagi.
Oleh karena itu, Abu Nawas diajak menuju ke tengah-tengah prajuritnya yg merupakan ahli beladiri dan ketangkasan.

"Ayo Abu Nawas, di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuan memanahmu. Panahlah sekali ini aja, kalau panahmu bisa mengenai sasaran, hadiah akan menantimu. Tapi kalau gagal, engkau akan aku penjara," kata raja.

Abu Nawas pun bergegas mengambil busur dan anak panah. Dengn memantapkan hati, Abu Nawas membidik sasaran dan mulai memanah. Namun panahnya meleset dari sasaran.
"Dari pengamatan saya, ini adalah gaya memanah para makelar tanah," ujar Abu Nawas tuk menutupi kelemahannya.

Sesaat kemudian, Abu Nawas mencabut sebuah anak panah lagi dan membidik sasaran. Lagi-lagi anak panah yg dibidikkan itu melesat terlalu jauh dari sasaran.
"Kalau yg ini Paduka, ini gaya Juragan Buah kalau sedang memanah," sahut Abu Nawas tuk menutupi kelemahannya yg kedua.

Tuk yg ketiga kalinya, Abu Nawas kembali mencabut anak panah dan mulai membidiknya. Namu kali ini kebetulan anak panah yg dibidikkan tersebut mengenai sasaran.
"Nah yg ini Paduka, ini baru gaya Abu Nawas kalau sedang memanah, saya pun menunggu hadiah yg Paduka janjikan," kata Abu Nawas dengn gembira.

Dengn tak bisa menyembunyikan tawanya, Paduka Raja lantas memberikan hadiah kepada Abu Nawas. Dengn kecerdikannya bermain kata-kata yg masuk logika akhirnya Abu Nawas mendapat hadiah, dia pun langsung mohon diri karena tak sabar tuk memberikan hadiah itu kepada istrinya.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 67, Pekerjaan Mustahil

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-67 Ini Berjudul "Pekerjaan Mustahil", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Pekerjaan Mustahil


Baginda baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yg mampu memerintahkan para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik tuk melakukan hal yg sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar dapat lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tak mustahil dapat dilakukan karena ada Abu Nawas yg amat cerdik di negerinya.
Abu Nawas segera dipanggil tuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setlah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda,
"Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?" tanya Baginda.

Abu Nawas tak langsung menjawab. Dia berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum.

Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dlam waktu sebulan.
Abu Nawas pulang dengn hati masgul. Setiap malam dia hanya berteman dengn rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengn kegundahan. Tak ada hari yg lebih berat dlam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini. Tetapi pada hari kesembilan dia tak lagi merasa gundah gulana.
Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. Dia menghadap Baginda tuk membahas pemindahan istana. Dengn senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yg diinginkan Abu Nawas.
"Ampun Tuanku, hamba datang ke sini hanya tuk mengajukan usul tuk memperlancar pekerjaan hamba nanti." kata Abu Nawas.

"Apa usul itu?"

"Hamba akan memindahkan istana Paduka yg mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yg kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi."

"Kalau hanya usulmu, baiklah." kata Baginda.

"Satu lagi Baginda….. " Abu Nawas menambahkan.

"Apa lagi?" tanya Baginda.

"Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yg gemuk tuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin." kata Abu Nawas.
"Usulmu kuterima." kata Baginda menyetujui. Abu Nawas pulang dengn perasaan riang gembira. Kini tak ada lagi yg perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, dia pasti akan dengn mudah memindahkan istana Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup.
Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pernah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yg dibebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yg meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini.

Saat-saat yg dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan tuk melakukan salat Hari Raya Idul Qurban. Dan seusai salat, sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segera dibagikan kepada fakir miskin.
Kini giliran Abu Nawas yg harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya kepada Baginda Raja,
"Ampun Tuanku yg mulia, apakah istana sudah tak ada orangnya lagi?"

"Tak ada." jawab Baginda Raja singkat.

Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. Dia berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yg ditunggu. Benar. Baginda Raja akhirnya tak sabar.
"Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?" tanya Baginda Raja.

"Hamba sudah siap sejak tadi Baginda." kata Abu Nawas.

"Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yg engkau tunggu?" tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.
"Hamba menunggu istana Paduka yg mulia diangkat oleh seluruh rakyat yg hadir tuk diletakkan di atas pundak hamba. Setlah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yg mulia ke atas gunung sesuai dengn titah Paduka."
Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tak menyangka Abu Nawas masih dapat keluar dari lubang jarum.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 66, Pesan Bagi Hakim

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-66 Ini Berjudul "Pesan Bagi Hakim", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Pesan Bagi Hakim


Siapakah Abu Nawas? Tokoh yg dinggap badut namun juga dianggap ulama
besar ini— sufi, tokoh super lucu yg tiada bandingnya ini aslinya orang Persia
yg dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di
Baghdad. Setlah dewasa dia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana dia belajar
bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengn orang-orang badui padang pasir.
Karena pergaulannya itu dia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran
orang Arab”, dia juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. dia sempat
pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya
menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.

Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu
Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yg
sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.

Abu Nawas dipanggil ke istana. Dia diperintah Sultan (Raja) tuk mengubur
jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yg dilakukan
Abu Nawas hampir tiada bedanya dengn Kadi Maulana baik mengenai tata cara
memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo’akannya, maka
Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi ato penghulu
menggantikan kedudukan bapaknya.

Namun… demi mendengar rencana sang Sultan.

Tiba-tiba saja Abu Nawas yg cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi
gila.

Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong
batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, dia menunggang kuda dari ba-
tang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya.
Orang yg melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yg lain dia mengajak anak-anak kecil dlam jumlah yg cukup
banyak tuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu dia
mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka
menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karna ditinggal mati oleh
bapaknya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang
menemui Abu Nawas.

“Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan tuk menghadap ke istana.” kata wazir
utusan Sultan.

“Buat apa sultan memanggilku, aku tak ada keperluan dengannya.”jawab Abu
Nawas dengn entengnya seperti tanpa beban.

“Hai Abu Nawas kau tak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.”

“Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan
di sungai supaya bersih dan segar.” kata Abu Nawas sambil menyodorkan
sebatang pohon pisang yg dijadikan kuda-kudaan.

Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.

“Abu Nawas kau mau apa tak menghadap Sultan?” kata wazir
“Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tak mau.” kata Abu
Nawas.

“Apa maksudnya Abu Nawas?” tanya wazir dengn rasa penasaran.

“Sudah pergi sana, bilang aja begitu kepada rajamu.” sergah Abu Nawas
sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan
keadaan Abu Nawas yg seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.

Dengn geram Sultan berkata,”Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu
Nawas kemari aja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia
kemari dengn suka rela ataupun terpaksa.”

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengn paksa Abu
Nawas di hadirkan di hadapan raja.

Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya
ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.

“Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda.

“Ya Baginda, tahukah Anda….?”

“Apa Abu Nawas…?”

“Baginda… terasi itu asalnya dari udang !”

“Kurang ajar kau menghinaku Nawas !”

“Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?”

Baginda merasa dilecehkan, dia naik pitam dan segera memberi perintah kepada
para pengawalnya. “Hajar dia! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali”

Wah-wah! Abu Nawas yg kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli
tentara yg bertubuh kekar.

Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang
kota, dia dicegat oleh penjaga.

“Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita tlah
mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi
hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian,
aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?”

“Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah
Baginda yg diberikan kepada tadi?”

“Iya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?”

“Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!”

“Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan
sudah sering menerima hadiah dari Baginda.”

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yg agak besar
lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali. Tentu saja orang itu
menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas tlah menjadi gila.

Setlah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu
aja, dia terus melangkah pulang ke rumahnya.

Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan
Harun Al Rasyid.

“Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari
mengadukan Abu Nawas yg tlah memukul hamba sebanyak dua puluh lima
kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda.”
Baginda segera memerintahkan pengawal tuk memanggil Abu Nawas. Setlah
Abu Nawas berada di hadapan Baginda dia ditanya.”Hai Abu Nawas! Benarkah kau
tlah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali
pukulan?”

Berkata Abu Nawas,”Ampun Tuanku, hamba melakukannya karna sudah
sepatutnya dia menerima pukulan itu.”

“Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang
itu?” tanya Baginda.

“Tuanku,”kata Abu Nawas.”Hamba dan penunggu pintu gerbang ini tlah
mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka
hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian tuknya satu bagian tuk saya.
Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya
berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya.”

“Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau tlah mengadakan perjanjian
seperti itu dengn Abu Nawas?” tanya Baginda.
“Benar Tuanku,”jawab penunggu pintu gerbang.

“Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan.”

“Hahahahaha Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!”sahut
Baginda.”Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga
pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yg suka narget, suka memeras
orang! Kalau kau tak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan
memecat dan menghukum kamu!”

“Ampun Tuanku,”sahut penjaga pintu gerbang dengn gemetar.

Abu Nawas berkata,”Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba
diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon
ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan
Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah tuk keluarga hamba.”

Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba dia
tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha…jangan kuatir Abu Nawas.”

Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong
uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengn hati gembira.

Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan
semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengn para
menterinya.

“Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yg hendak kuangkat sebagai
kadi?”

Wazir ato perdana meneteri berkata,”Melihat keadaan Abu Nawas yg
semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain aja
menjadi kadi.”
Menteri-menteri yg lain juga mengutarakan pendapat yg sama.

“Tuanku, Abu Nawas tlah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.”

“Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru
aja mati. Jika tak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yg lain
aja.”

Setlah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al
Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi ato penghulu kerajaan Baghdad.

Konon dlam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Fulan yg sejak
lama berambisi menjadi Kadi, dia mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda
tuk menyetujui jika dia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala dia mengajukan
dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengn mudah Baginda
menyetujuinya.

Begitu mendengar Fulan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan
syukur kepada Tuhan.

“Alhamdulillah aku tlah terlepas dari bala yg mengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Fulan yg menjadi Kadi, kenapa enggak yg
lain aja.”

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:

Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia dia
panggil Abu Nawas tuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati
bapaknya yg sudah lemah lunglai.

Berkata bapaknya,”Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah
telinga kanan dan telinga kiriku.”
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. Dia cium telinga
kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yg sebelah kiri berbau
sangat busuk.

“Bagamaina anakku? Sudah kau cium?”

“Benar Bapak!”

“Ceritakankan dengn sejujurnya, baunya kedua telingaku ini.”

“Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yg sebelah kanan berbau
harum sekali. Tapi… yg sebelah kiri kok baunya amat busuk?”
“Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?”

“Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.”

Berkata Syeikh Maulana “Pada suatu hari datang dua orang mengadukan
masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yg
seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah
resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan
mengalami hal yg sama, namun jika kau tak suka menjadi Kadi maka
buatlah alasan yg masuk akal agar kau tak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan
Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap
memilihmu sebagai Kadi.”

Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya tuk
menghindarkan diri agar tak diangkat menjadi kadi, seorang kadi ato
penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yg memutus suatu
perkara. Walaupun Abu Nawas tak menjadi Kadi namun dia sering diajak
konsultasi oleh sang Raja tuk memutus suatu perkara. Bahkan dia kerap kali
dipaksa datang ke istana hanya sekedar tuk menjawab pertanyaan Baginda
Raja yg aneh-aneh dan tak masuk akal.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 65, Menduduki Singgasana Raja

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-65 Ini Berjudul "Menduduki Singgasana Raja", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Menduduki Singgasana Raja


Jika tak dapat berkelit dari hukuman, maka bukan Abu Nawas namanya. Dia selalu memiliki banyak cara dan alasan agar lolos dari hukuman.

dengn tenangnya Abu Nawas ini menduduki singgasana raja, bahkan dia sampai menjual harga diri rajanya agar lolos dari hukuman.

Kecerdikan akal dan pikiran Abu Nawas sudah tersebar di seluruh penjuru kerajaan yg dipimpin oleh Raja Harun Ar-Rasyid. Bahkan raja sendiri pun mengakui kehebatan Abu Nawas hingga mengajaknya tinggal di istana.

Raja Harun tlah memberikan kebebasan kepada Abu Nawas tuk keluar masuk istana tanpa prosedur yg berbelit. dengn hadirnya Abu Nawas di istana, maka raja dapat setiap saat meminta pertimbangan, pendapat kepada Abunawas dalam setiap keputusannya, sebagai penasehat kerajaan.

Namun, tampaknya kali ini Abu Nawas mulai bosan tinggal di istana, dia tak terbiasa dengn hidup berfoya-foya. Meskipun semua yg diinginkan selalu tersedia, namun Abu Nawas memilih ingin tinggal di luar istana, dia rindu sekali tuk menggarap sawah dan merawat hewan ternaknya.

Dari sinilah kenudian muncul dalam pikiran Abu Nawas tuk keluar dari istana. Diputarlah otaknya tuk mencari alasan agar dia bisa keluar.

Setlah semalamam dipikirkan, Abu Nawas menemukan cara jitu tuk keluar dari lingkungan istana.
Pada keesokan harinya, dia sengaja bangun pagi-pagi sekali kemudian pergi ke ruang utama istana. Saat itu suasana masih sepi, hanya terdapat beberapa pengawal. Raja Harun sendiri masih terbaring di tempat tidurnya.

Pada saat Abu Nawas itulah Abu Nawas mendekati singgasana raja dan mendudukinya. Tak hanya itu aja, Abu Nawas juga mengangkat kaki dan menyilangkan salah satu kakinya seolah-olah dialah rajanya.

Melihat kejadian itu, beberapa pengawal kerjaaan terpaksa mengangkap Abu Nawas. Mereka menilai bahwa siapapun tak berhak duduk di singgasana raja kecuali Raja Harun sendiri.
Barang siapa yg menempati tahta raja, termasuk dalam kejahatan yg besar dan hukuman mati yg diberikan.

Para pengawal menangkapAbu Nawas kemudian menyeretnya turun dari tahta dan memukulinya.
Mendengar teriakan Abu Nawas yg kesakitan, raja menjadi terbangun dan menghampirinya.
‘Wahai pengawal, apa yg kalian lakukan?” tanya raja.
“Ampun Baginda, Abu Nawas tlah lancang duduk di singgasana Paduka, kami terpaksa menyeret dan memukulinya,” jawab salah seorang pengawal.

Sesaat setlah itu, Abu Nawas tiba-tiba aja menangis. Tangisannya sengaja dia buat kencang sekali sehingga banyak menyita perhatian penduduk istana lainnya.
“Benarkah yg dikatakan pengawal itu wahai Abu Nawas?” kata Raja Harun.
“Benar Paduka,” jawan Abu Nawas.

Raja sangat terkejut dengn penuturan Abu Nawas itu. jika sesuai peraturan yg ada, Abu Nawas akan dikenai hukuman mati. Namun, Raja Harun tak sampai hati melaksanakannya mengingat begitu banyak jasa yg diberikan Abu Nawas kepada kerajaan.

“Sudahlah, tak usah menangis. Jangan khawatir, aku tak akan menghukummu. Cepat hapus air matamu,” ucap sanga raja.
“Wahai Baginda, bukan pukulan mereka yg membuatku menangis, aku menangis karena kasihan terhadap Paduka,” kata Abu Nawas yg membuat raja tercenganng oleh ucapan itu.
‘Engkau mengasihaniku?” tanya Raja Harun.
“Mengapa engkau harus menagisiku?” kata raja lagi.

Abu Nawas menjawab,
“Wahai raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali, tapi mereka tlah memukuliku dengn begitu keras. Apalagi paduka, paduka tlah menduduki tahta selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yg akan paduka terima? Aku menangis karena memikirkan nasib paduka yg malang,” jawab Abu Nawas.

Jawaban itu membuat raja tak bisa berbuat apa-apa.
Dia tak menygka Abu Nawas menjual harga dirinya di depan banyak pengawal. Oleh karena itu, Raja Harun hanya menghukum Abu Nawas tuk dikeluarkan dari istana.
“Baiklah jika demikian, mulai detik ini kamu harus keluar dari sitanaku,” kata raja sedikit geram.

“Terima kasih paduka, memang itulah yg saya kehendaki,” balas Abu Nawas sambil menyalami Raja Harun tuk kemudian pamit keluar dari istana.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 64, Petugas Pajak

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-64 Ini Berjudul "Petugas Pajak", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Petugas Pajak


Al Kisah...
Pada suatu waktu, kerajaan mengalami krisis ekonomi yg buruk, karna pendapatan kerajaan yg berasal dari pajak tak mampu memenuhi target yg tlah ditetapkan oleh Raja.
Akibatnya banyak fasilitas umum dan bangunan kerajaan rusak tak ada biaya tuk memperbaikinya.

Kondisi kerajaan yg krisis ini membuat Raja geram, karena bagaimana enggak, kerajaan tlah beberapa kali memenangkan peperangan dan memiliki wilayah makin luas akan tetapi krisis malah muncul dari pajak.
Akhirnya diadakanlah pertemuan, dimana semua punggawa kerajaan hadir dengn membawa berbagai kertas laporan sesuai dengn bidangnya masing-masing.
Bahkan ada yg kertas laporannya berserakan di lantai juga.

Raja memulai pembicaraan.
"Bagaimana mungkin kerajaanku ini memiliki infrastruktur yg rusak cukup parah, kenapa hasil pertanian sangat menurun, padahal tanah di sini cukup subur tuk bercocok tanam," semprot Sang Raja.

Semua terdiam oleh bentakan Raja tersebut.
Pejabat yg hadir tak mampu menjawab pertanyaan sang raja dan hanya meyerahkan setumpuk laporan kerja.
Karena marah, raja pun akhirnya merobek-robek kertas laporan yg diajukan oleh punggawanya tersebut, malah ada yg disuruh tuk memakan kertas itu.

Abu Nawas yg juga hadir dlam pertemuan tersebut juga tak mampu berbuat banyak oleh bentakan sang raja.
Namun, sesaat kemudian sang raja memerintahkan Abu Nawas yg tlah dipercayanya tuk menggantikan para petugas pajak tuk menghitung penerimaan pajak kerajaan.
Dalam kondisi tertekan, akhirnya ABu Nawas pun memenuhi perintah Baginda Raja.

Semua punggawa lain terheran-heran dengn ulah Abu Nawas ini, bagaimana enggak, semuanya sangat tertekan, Abu Nawas malah membawa sepotong roti ke hadapan Baginda Raja.
"Apakah dirimu akan menyuapku dengn roti itu, wahai ABu Nawas," bentak Sang Raja.
"Bukan begitu Paduka Raja yg mulia, laporan keuangan yg saya kerjakan semuanya tercatat pada roti ini," jawab Abu Nawas enteng.
"Apakah maksudmu, kau jangan mencoba berpura-pura gila di hadapanku," bentak Baginda Raja dengn kesal.

"Paduka, usiaku sudah cukup lanjut, aku tak akan kuat makan kertas-kertas laporan yg nantinya Anda sobek dan menyuruhku tuk memakannya.
Jadi semua laporan keuangannya aku pindahkan pada roti ini," jawab Abu Nawas.

Sebuah teguran yg sangat halus dari Abu Nawas agar Baginda Raja lebih bijaksana dlam memimpin kerajaan.
Sejak saat itu pula, Baginda Raja tersadar bahwa tindakannya tak benar dan sangat keterlaluan, karena harus menyuruh memakan kertas laporan dari pejabat-pejabatya.
Bersama dengn para cendekiawan kerajaan lain, akhirnya Raja merumuskan perundang-undangan perpajakan yg lebih memihak kepada rakyat.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 63, Pintu Akhirat

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-63 Ini Berjudul "Pintu Akhirat", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Pintu Akhirat


Tak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak.
Baginda mulai keluar istana dengn pakaian yg amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setlah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yg datang dan bergabung di situ, Dia bertanya kepada ulama itu.
"Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tak mendengar mereka berteriak dan tak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yg katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yg tak sesuai dengn yg dilihat mata?" Ulama itu berpikir sejenak kemudian dia berkata,

"Tuk mengetahui yg demikian itu harus dengn panca indra yg lain. Ingatkah kamu dengn orang yg sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dlam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. Dia juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. Dia merasakan hal semacam itu seperti ketika tak tidur. Sedangkan engkau yg duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tak ada apa-apa. Padahal apa yg dilihat serta dialaminya adalah dikelilingi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yg remeh aja sudah tak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau dapat melihat apa yg terjadi di alam barzah?"

Baginda Raja terkesan dengn penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yg amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yg amat luar biasa indahnya. Tak ada yg lebih indah dari barang-barang di surga karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking indahnya maka satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan seisinya. Baginda makin terkesan. Beliau pulang kembali ke istana.
Baginda sudah tak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas dipanggil: Setlah menghadap Baginda.
"Aku menginginkan kamu sekarang juga berangkat ke surga kemudian bawakan aku sebuah mahkota surga yg katanya tercipta dari cahaya itu. Apakah engkau sanggup Abu Nawas?"
"Sanggup Paduka yg mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas yg mustahil dilaksanakan itu. "Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu syarat yg akan hamba ajukan."

"Sebutkan syarat itu." kata Baginda Raja.

"Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba dapat memasukinya."
"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat." jawab Abu Nawas.
"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu.

"Kiamat, wahai Paduka yg mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota di surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu."
Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.

Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya lagi, "Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?" Baginda Raja tak menjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohon diri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 62, Mau Terbang

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-62 Ini Berjudul "Mau Terbang", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Mau Terbang


Namanya aja Abu Nawas, selalu punya seribu cara tuk meloloskan diri dari hukuman.
Kali ini adalah Raja Harun Ar-Rasyid yg termakan tipuannya.
Abu Nawas bebas dari hukuman Raja setlah berjanji bahwa ia akan terbang.

Karena di anggap terlalu mengkritik kepemimpinan Raja Harun, maka Abu Nawas ditangkap karena ia dituduh tlah melakukan sesuatu yg membahayakan kerajaan sehingga harus dihukum.
Namun demikian, Abu Nawas selalu punya alasan tuk meloloskan diri dari hukuman itu.

Ia mengaku kepada pengawal kerajaan bahwa ia memiliki ilmu tinggi dan ia akan terbang.
Kabar Abu Nawas akan terbang akhirnya terdengar oleh Raja Harun.

“Mana mungkin Abu Nawas akan terbang, dia tak punya sayap, tak punya alat-alat khusus, apakah ia punya ilmu khusus?” kata Raja Harun kepada pengawalnya.
“Kami tak tahu paduka, tetapi Abu Nawas sangat meyakinkan,” jawab pengawal.

Hingga dibawalah Abu Nawas menghadap Sang Raja.
“Abu Nawas, betulkah kamu mau terbang?” tanya Raja.
“Ya Tuanku, memang saya mau terbang,” jawab Abu Nawas.
“Kapan? dan dimana?” tanya Raja secara beruntun.
“Hari Juma’at yg akan datang ini, dan dari menara Masjid Baitul Rakhim, tak jauh dari rumah saya, jika raja mengijinkan,” jawab Abu Nawas.

Akhirnya Sang Raja mengijinkan dan bahkan ia berjanji akan membebaskan Abu Nawas jika bisa terbang.
Akan tetapi jika Abu Nawas tak bisa membuktikan, maka hukumannya akan ditambah 100 lecutan rotan, daun kuping dipotong dan hukuman gantung.

Akan Terbang
Pada hari yg sudah dinantikan, Jum’at sesudah sembahyg Jum’at, lapangan sekitar masjid Baitul Rakhman sudah penuh orang.
Orang biasa, rakyat, penduduk dan penguasa setempat sudah berjubel mengambil tempat masing-masing.
Orang-orang menantikan saat yg paling genting dan mendebarkan.

Abu Nawas dengn langkah yg sangat gagah dan tak ragu, menaiki tangga menara tertinggi dan orang-orang melihat dengn mata yg tak berkedip, terpaku dan menyatu mengikuti langkah tubuh Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas sampai pada puncak tertinggi, dia melihat lurus dan terkadang ke bawah yg penuh orang.
Badan dan kedua belah tangannya merentang lurus seakan-akan benar mau terbang.
Orang-orang yg ada di bawah dengn seksama memperhatikan dan Abu Nawas terus dan berulang-ulang merentangkan tangannya dan memajukan badannya seakan-akan terbang dan bagaikan berenang perilaku dan gerak-geriknya.

Sementar orang-orang yg ada di bawah menunggu dengn jantung berdegup dengn kencang.
Akhirnya Abu Nawas menemui mereka dan mereka semua terpana, terpesona, heran dan penuh keraguan apalagi yg mau dibuat ABu Nawas ini.

“Apa semua kalian lihat tadi bagaimana saya mau terbang itu?” tanya Abu Nawas.
“Ya, kami melihat, kamu menggerakkan kedua belah tanganmu dan badanmu bergerak ke depan, tampaknya memang bergaya mau terbang,” kata orang banyak.

Bebas
“Lalu apakah saya berbohong bahwa saya mau terbang pada hari Jum’at ini dan di menara tertinggi Masjid Baitul Rakhim ini?” tanya Abu Nawas.
“Ya tak bohong, kamu betul mau terbang hari ini dan di sini.Tapi kenapa lalu kamu tak terbang?” kata mereka.

“yg saya katakan bahwa saya mau terbang.Lalu saya coba, lalu ternyata yg seperti kalian lihat tadi itu,” kata ABu Nawas.
“Tapi ternyata kamu tak bisa terbang,” kata mereka.

“Itu soal lain, saya tak mengatakan bahwa saya mau terbang pada hari Jum’at ini dan di sini.Itu yg saya katakan dan kalian semua tahu hal itu.
Saya katakan bahwa saya mau terbang, hanya itu bukannya terbang,” kata ABu Nawas.

Orang-orang saling melihat dan mulut mereka berguman.
Tarikan nafas panjang karena Abu Nawas terlepas dari jeratan hukum.
Orang-orang juga sama membenarkan bahwa Abu Nawas memang tak berbohong.
Dia melakukan semua yg dia pernah katakan.tak berbohong dan menepati janji.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 61, Obat Ajaib

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-61 Ini Berjudul "Obat Ajaib", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Obat Ajaib


Pada suatu hari, Raja Harun Ar-Rasyid tlah mempermalukan Abunawas dengn menyiram air kencing di depan para tamu undangan. Abu Nawas hanya bisa terdiam, namun dalam hati dia merencanakan sesuatu di lain hari.

Figur Abu Nawas ini memang sangat lihai dalam menyelesaikan masalah. tak hanya lucu aja, akan tetapi juga bijaksana sehingga Abu Nawas tak dapat dianggap enteng. Raja sangat bangga memiliki warga seperti Abu Nawas ini. Namun, pada pihak lain dari diri Abu Nawas juga sangat menjengkelkan raja karena ulahnya yg selalu tak tahu diri. Oleh karena itulah Baginda Raja tak pernah berhenti memeras otaknya tuk membalas Abu nawas.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan Rabi’ul Awal diadakan acara Maulid Nabi. Sambil tersenyum, Baginda Raja berguman dalam hati,
“Awas ya kamu Abu Nawas, kali ini kamu pasti kena.”

Acara Maulid Nabi pun tibalah waktunya, dan diselenggarakan di istana. Pada saat itu semua pembesar negeri hadir termasuk putra-putra mahkota dari kerajaan sebelah, termasuk pula Abu Nawas ikutan diundang.

dengn perintah raja, semua yg hadir di acara Maulid Nabi tersebut dipersilahkan tuk berdiri dan kemudian disirami dengn air mawar yg menebarkan bau harum. Kecuali Abu Nawas, dia disiram dengn air kencing.

Membalas Tipuan Raja.
Setlah disiram dengn air kencing tersebut, jadi sadarlah Abu Nawas kalau dirinya tlah dipermalukan di depan para pembesar negeri. Dia bungkam seribu bahasa dan hanya bisa berguman dalam hati,
“Baiklah, hari ini paduka tlah memberiku kuah tak sedap, esok hari aku akan membalasnya dengn isinya.”

Sejak saat itu Abu Nawas tak pernah menjejakkan kakinya di istana. Raja pun menjadi kangen dibuatnya karena kelucuannya saat bercerita.
Ketika Raja memanggilnya ke istana, rupanya Abu Nawas takbersedia dengn alasan sakit yg membuat tubuhnya lemah lunglai.

Karena khawatir tlah terjadi sesuatu dengn diri Abu Nawas, Raja pun ingin menengoknya diiringi dengn beberapa petinggi kerajaan.
Pucuk dicinta ulam tiba, begitu mendengar Raja menuju ke rumahnya, Abu Nawas yg dalam keadaan segar bugar itu pun langsung memasang aksi.

Matanya terpejam, badan tergeletak lemah lunglai. Namun, sebelum dia beraksi demikian, dia tlah terlebih dahulu menyuruh istrinya menyiapkan obat ajaib yg berbentuk bulatan kecil. Dna diantara bulatan obat ajaib itu terdapat 2 butir yg dibubuhi tinja di dalamnya.

Tak berapa lama kemudian raja sudah ada di depan pintu rumah Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, apa yg kamu telan itu?” tanya raja.
“Inilah yg disebut obat ajaib, resepnya hamba peroleh lewat mimpi tadi malam. Jika saya menelan 2 butir niscaya akan sembuh,” jawab Abu Nawas yg terlentang dan segera bangun setlah menelan pil yg kedua.

“Kalau begitu, aku juga mau minum obat ajaib itu,” kata raja.
“Baiklah Tuanku. Paduka berbaringlah dan pejamkan mata seperti hamba sekarang ini, tak boleh duduk, apalagi berdiri,” kata Abu Nawas.
Mak raja pun menuruti perintah Abu Nawas.

Obat Ajaib.
Begitu mata Raja terpejam, Abu Nawas cepat-cepat memasukkan butiran obat ajaib yg tlah dibubuhi tinja itu ke mulut raja. Tiba-tiba aja Baginda Raja bangkit sambil membelalakkan matanya.

“Hai Abu Nawas, Engaku memberiku makan tinja ya,” kata raja.
Maka Abu Nawas pun segera bersimpuh sambil memberi hormat kepada rajanya.
“Wahai Khalifah, dulu Baginda memberi hamba kuahnya, sekarang hamba memberi isinya, Jikalau Baginda tak memberi hamba uang 100 dinar, kejadian itu akan hamba ceritakan kepada khalayak ramai,” kata Abunawas.
“Diamlah hai Abunawas, jangan ngomong kepada siapa-siapa, nanti aku akan memberimu uang 100 dinar,” kata Raja.

Setlah itu, raja dan semua pengikutnya kembali ke istana. Mereka menyiapkan pundi-pundiyg berisi uang seratus dinar. nah, tuk kesekian kalinya Abu Nawas berhasil memperdayai rajanya, berhasil mengalahkan rajanya.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 60, Mencium Pantat Ayam

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-60 Ini Berjudul "Mencium Pantat Ayam", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Mencium Pantat Ayam


Seperti kita ketahui bersama bahwa Abu Nawas ini cerdik sekali sehingga meskipun dijahili orang, sekalipun itu raja, masih saja bisa membela diri dengn kata-katanya. Seperti Raja Harun yg mencoba menjebak Abu Nawas dengn ayam panggang yg lezat, Abu Nawas kembali sukses menghindar dan akhirnya malah sang raja yg merasa malu di depan para tamu undangan.

Kisahnya
Pada suatu hari Raja Harun Ar-Rasyid sedang galau dengn sikap Abu Nawas. Beberapa kali Abu Nawas tlah membuatnya malu di depan para pejabat kerajaan. Berlatar belakang dendam inilah akhirnya Raja hendak membuat jebakan terhadap Abu Nawas. Jika Abu Nawas gagal menghadapi jebakan tersebut, maka hukuman akan diberikan kepadanya.

Maka dipanggillah Abu Nawas tuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid. Setlah melewati beberapa prosedur, sampai juga Abu Nawas di istana kerajaan. Sang raja lalu memulai pertanyaannya,
“Wahai Abu Nawas, di depan mejaku itu ada sepanggang daging ayam yg lezat dan enak dilahap, tolong segera ambilkan.”

Abu Nawas tampak bingung dengn perintah tersebut, karena tak biasanya dia disuruh mengambilkan makanan raja.
“Mungkin raja ingin menjebakku, aku harus waspada,” kata Abu Nawas dalam hati.

Mendapat Petunjuk yg Aneh
Abu Nawas pun akhirnya menuruti perintah itu. Setlah mengambil ayam panggang sang raja, Abu Nawas kemudian memberikannya kepada raja. Namun, sang raja belum langsung menerimanya, ia bertanya lagi,
“Abu Nawas, di tangan kamu ada sepotong ayam panggang lezat, silahkan dinikmati.”

Begitu Abu Nawas hendak menyantap ayam panggang tersebut, tiba-tiba raja berkata lagi,
“Tapi ingat Abu Nawas, dengarkan dulu petunjuknya. Jika kamu memotong paha ayam itu, maka aku akan memotong pahamu dan jika kamu memotong dada ayam itu, maka aku akan memotong dadamu. tak hanya itu saja, jika kamu memotong dan memakan kepala ayam itu, maka aku akan memotong kepalamu. Akan tetapi kalau kamu hanya mendiamkan saja ayam panggang itu, akibatnya kamu akan aku gantung.”

Abu Nawas merasa bingung dengn petunjuk yg dititahkan rajanya itu. Dalam kebingungannya, ia semakin yakin jika hal itu hanya akal-akalan Raja Harun saja demi tuk menghukumnya. tak hanya ABu Nawas saja yg tegang, tapi juga semua pejabat kerajaan yg hadir di istana tampak tegang pula. Mereka hanya bisa menebak dalam hati tentang maksud dari perintah rajanya itu.

Hampir sepuluh menit lamanya Abu Nawas hanya membolak-balikkan ayam panggang itu. Sejenak suasana menjadi hening. Kemudian Abu Nawas mulai mendekatkan ayam panggang itu tepat di indera penciumannya.

Para hadirin yg datang atas undangan raja mulai bingung dan tak mengerti apa yg dilakukan Abu Nawas. Kemudian terlihat Abu Nawas mendekatkan indera penciumannya tepat di bagian pantat daging ayam bakar yg kelihatan sangat lezat itu. Beberapa menit kemudian ia mencium bagian panta ayam bakar itu.

Raja Merasa Malu
Setlah selesai mencium pantat ayam bakar itu, kemudian Abu Nawas berkata,
“Jika saya harus memotong paha ayam ini, maka Baginda akan memotong pahaku, jika saya harus memotong dada ayam ini, maka Baginda akan memotong dadaku, jika saya harus memakan dan memotong kepala ayam ini, Baginda akan memotong kepalaku, tetapi coba lihat, yg saya lakukan adalah mencium pantat ayam ini,” kata Abu Nawas.

“Apa maksudmu, wahai Abu Nawas,” tanya Baginda.
“Maksud saya adlah kalau saya melakukan demikian maka Baginda juga akan membalasnya demikian, layaknya ayam ini. Nah, saya hanya mencium pantat ayam panggang ini saja, maka Baginda juga harus mencium pantat ayam panggang ini pula,” jelas Abu Nawas.

Sontak saja penjelasan Abu Nawas itu membuat suasana yg tegang menjadi tampak tak menentu. Para pejabat yg hadir menahan tawa, tetapi ragu-ragu karena takut dihukum raja. Sementara itu, raja yg mendengar ucapan Abu Nawas mulai memerah mukanya. Raja tampak malu tuk kesekian kalinya. tuk menutupi rasa malunya itu, beliau memerintahkan Abu Nawas tuk pulang dan membawa pergi ayam panggang yg lezat itu.

“Wahai Abu Nawas, cepat pulanglah, jangan sampai aku berubah pikiran,” kata raja.

Setibanya di rumah, ia mengundang beberapa tetangganya tuk berpesta ayam panggang. tuk kesekian kalinya Abu Nawas sukses mempermalukan Raja Harun Ar-Rasyid di depan para pejabat kerajaan.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!

Cerita Lucu Abu Nawas 59, Sorban Usang

Cerita Lucu Dari Sesosok Ulama Besar Abu Nawas Yang Ke-59 Ini Berjudul "Sorban Usang", Ambil Hikmahnya Yoo


Cerita lucu Abu Nawas di sini kami dapatkan dari berbagai sumber, jadi maaf yaa kalo cerita lucu seperti di bawah ini sudah pernah kalian baca. Cerita lucu ini sarat sekali dengan kandungan hikmah dalam ceritanya, jadi sambil menghibur hati, petik juga hikmah yang terkandung dalam cerita lucu dari Abu Nawas ini.

Selamat membaca...
--------------------------------------------------------------------------------------

Cerita Lucu, Abu Nawas Dan Sorban Usang


Pada suatu hari di kerajaan yg dipimpin oleh Raja Harun Ar-Rasyid tlah terjadi huru hara. Rakyatnya tak lagi mendapat ketenangan seperti biasanya karena tlah terjadi penculikan dan pembunuhan yg misterius.

Raja dan para prajuritnya akhirnya mengetahui bahwa huru-hara tersebut bukan datang dari musuh, namun dari dalam istana sendiri yg diotaki oleh para menterinya.
Namun, raja sangat kesulitan tuk mencari siapa yg bersekongkol terhadap tindakan penculikan dan pembunuhan tersebut karena dia melihat bahwa para menterinya semuanya taat kepadanya.

Dari itu, dipanggillah Abu Nawas yg dikenal memiliki otak yg cerdas.
"Akhir-akhir ini aku gelisah, seolah ada seseorang yg hendak mengkudeta kerajaanku. Apa ada yg salah dengn kepemimpinanku?" tanya raja kepada Abu Nawas.
"Ampun beribu ampun baginda, apa yg bisa hamba lakukan tuk membantu?" tanya Abu Nawas.
"Begini wahai Abu Nawas, berilah cara kepadaku tuk menguji kesetiaan para menteriku," kata raja dengn iming-iming hadiah.
"Baiklah paduka, berilah hamba waktu sehari aja agar bisa memikirkan caranya," ujar Abunawas sambil beranjak meninggalkan rajanya.

Setibanya di rumah, Abunawas berpikir keras tuk menemukan cara yg terbaik dan jitu. Karena kelelahan, Abu Nawas akhirnya tertidur dengn lelapnya.

Pada keesokan harinya ketika dia hendak shalat subuh, dia menemukan sorban yg berbau tak sedap. Sorban itu memang tlah lama tak dicuci oleh istrinya. Dari situlah Abunawas menemukan cara jitu tuk menguji kesetiaan para menteri kerajaan.

Setlah shalat subuh, Abu Nawas segera bergegas menuju istana kerjaaan tuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid.
Abu Nawas meminta raja tuk bersandiwara seolah tlah memiliki sorban sakti.
Raja Harun setuju dan melakukan apa yg tlah diperintahkan oleh Abu Nawas.

Setlah itu, maka dikumpulkanlah kelima menterinya tuk menghadap.
Di hadapan para menteri itu, raja mengatakan bahwa ia tlah mendapat hadiah berupa sorban sakti hasil pemberian dari kerajaan lain. Dan salah satu kesaktian sorban itu adalah bisa menentukan masa depan kerajaan di masa yg akan datang.

"Wahai para menteriku, bantulah aku tuk menentukan masa depan negeri ini," titah raja.
"Bagaimana caranya wahai Baginda?" tanya salah seorang menteri.
"Masing-masing dari kalian, coba ciumlah sorban hadiah ini secara bergantian. Apabila berbau wangi, maka kerajaan ini akan abadi. Namun, bila baunya busuk, maka kerajaan ini tak akan lama lagi akan segera runtuh," jelas raja.

Sesuai dengn perintah raja, para menteri satu persatu memasuki ruangan tuk mencium sorban sakti tersebut. Setlah semuanya tlah mendapatkan giliran, maka dikumpulkanlah lagi menteri-menterinya.

"Bagaimana baunya," tanya raja.
"Sorban ini baunya sangat harum, niscaya kerajaan ini akan abadi," jawab menteri pertama.
Menteri kedua dan ketiga menjawab sama dengn menteri pertama. Intinya adalah mereka berusaha tuk membuat rajanya senang.

Giliran menteri ke empat dan ke lima angkat bicara.
Di luar dugaan, menteri ke empat dan ke lima ini mengatakan bahwa sorab sakti tersebut baunya busuk dan menyengat hidung.
Mendengar penyataan menteri ke empat dan ke lima itu, raja kahirnya membuka rahasia bahwa sorban yg dikiranya sakti tersebut adalah milik Abu nawas yg sudah usang dan tak dicuci lama sekali.

Bergetarlah badan dari menteri pertama, ke dua dan ke tiga.
"Kini aku tahu siapa diantara kalian yg tlah berkhianat kepadaku. Kalian tlah terbukti berbohong dan kalian pantas tuk masuk penjara," ujar raja Harun.
Menteri pertama, ke dua dan ke tiga segera ditangkap dan dimasukkan ke dlam penjara.

Kepada menteri ke empat dan ke lima, Raja Harun memberikan hadiah kepada mereka karena kesetiaan yg tlah diberikan. Tak lupa juga, Abu Nawas mendapat bagian hadiah yg tlah dijanjikan oleh Raja Harun kemarin hari.

--------------------------------------------------------------------------------------
Gimana? Sudah merasa terhibur dengan cerita lucu di atas. Jika anda tertarik membaca cerita lucu lainnya, silahkan baca di blog ini. Sampai berjumpa lagi di cerita lucu kami lainnya. Bey.

Untuk lebih lengkap tentang apa yang sedang Anda cari, Silahkan lihat dalam "Daftar Isi" di tombol menu atas!